*Byaaarrr-Byuuurrr.. !!
Di tahun ini gelora angka 21 mulai terasa mengalir dari hulu menuju hilir dengan melewati jalan yang berliku. Saya mengira di tahun ini saya sudah terbebaskan dari yang namanya kerja keras, kerja untuk mengolah pikir dan rasa serta berjuang untuk bisa bertahan hidup.
Ternyata itu tidak !!!
Masih banyak kumpulan proses dan aktivitas yang sangat berkaitan erat dengan yang namanya "hidup". Pada intinya hidup adalah perjalanan untuk mencari tujuan (Goal Seeking), model hidup yang seperti apa yang kita idamkan di hari tua nanti yang sejahtera dan bertahta ataukah sebaliknya ?
Saya pernah besilogisme seperti ini :
Itu adalah hal logis yang semestinya dilakukan tetapi terkadang saya sering merasa takut gagal ketika dihadapkan dengan suatu pilihan. Sering kali saya berfikir "apakah jalan yang saya pilih ini benar-benar jalan yang saya cari ?"
Dunia membukakan kita pada pilihan, walaupun itu pilihan yang teramat pahit tetapi tetap harus dicari solusinya dengan daya pikir akal yang telah di bekali Tuhan untuk semua hambanya.
***
Apa mau dikata kalau kita hidup masih dari hasil keringat orang tua, mau ini dan itu hanya tinggal meminta tanpa harus berpikir panjang "pakoknya sekarang saya mau ini dan itu" (titik), itu kata-kata yang sering dilontarkan oleh kedua keponakan saya ketika punya keinginan.
Begitupun ketika menginjak masa remaja, pada umumnya dimasa ini orang lebih senang berbuat keriangan entah itu bersama teman, sahabat, keluarga ataupun bersama lawan jenisnya. Masa putih abu menjadi surga bagi para kaum remaja sebagaimana yang pernah saya rasakan bagaimana rasa cokelat manisnya putih abu, pada notabenenya orang ketika menginjak remaja selalu menuntut freedom, menginginkan area yang bebas berekspresi untuk bisa melakukan hal-hal yang aneh, unik dan menarik.
Masih banyak kumpulan proses dan aktivitas yang sangat berkaitan erat dengan yang namanya "hidup". Pada intinya hidup adalah perjalanan untuk mencari tujuan (Goal Seeking), model hidup yang seperti apa yang kita idamkan di hari tua nanti yang sejahtera dan bertahta ataukah sebaliknya ?
Saya pernah besilogisme seperti ini :
- Semua orang yang ingin bahagia, sejahtera dan bertahta di hari tua nanti harus bekerja keras dan banyak berdoa;
- Saya ingin bahagia, sejahtera, dan bertahta di hari tua nanti;
- Jadi, saya harus bekerja keras dan banyak berdoa.
Itu adalah hal logis yang semestinya dilakukan tetapi terkadang saya sering merasa takut gagal ketika dihadapkan dengan suatu pilihan. Sering kali saya berfikir "apakah jalan yang saya pilih ini benar-benar jalan yang saya cari ?"
Dunia membukakan kita pada pilihan, walaupun itu pilihan yang teramat pahit tetapi tetap harus dicari solusinya dengan daya pikir akal yang telah di bekali Tuhan untuk semua hambanya.
***
Apa mau dikata kalau kita hidup masih dari hasil keringat orang tua, mau ini dan itu hanya tinggal meminta tanpa harus berpikir panjang "pakoknya sekarang saya mau ini dan itu" (titik), itu kata-kata yang sering dilontarkan oleh kedua keponakan saya ketika punya keinginan.
Begitupun ketika menginjak masa remaja, pada umumnya dimasa ini orang lebih senang berbuat keriangan entah itu bersama teman, sahabat, keluarga ataupun bersama lawan jenisnya. Masa putih abu menjadi surga bagi para kaum remaja sebagaimana yang pernah saya rasakan bagaimana rasa cokelat manisnya putih abu, pada notabenenya orang ketika menginjak remaja selalu menuntut freedom, menginginkan area yang bebas berekspresi untuk bisa melakukan hal-hal yang aneh, unik dan menarik.
Lain halnya ketika mulai menginjak angka 21, menurut kacamata ahli psikolog menerangkan di usia ini orang lebih cenderung memikirkan hal yang yang lebih realitas dan pantas untuk dilakukan, mulai menunjukan tentang kehidupan yang diidamkannya dengan menampakkan bakat dan minat yang disukainya dan mulai belajar tentang arti hidup dan mencari tujuan hidup, termasuk berfikir logis tentang cinta dan asmara tidak hanya menggebu-gebukan nafsu dan hasrat tetapi mulai memasukan variabel "rasio dan logika" untuk memilih dan memiliki teman hidup.
***
Berbicara yang namanya "HIDUP", menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai masih terus ada, bergerak dan bekerja sebagaimana mestinya. Memang benar hidup harus di isi dengan serangkaian aktivitas sebagaimana mestinya entah itu untuk bekerja, bersekolah, beribadah, beristirahat,bermain ataupun apa saja yang sering orang lakukan ketika hidup.
Namun kita harus ingat akan metamorfosa hidup, bahwa hidup tak selamanya muda dengan kebugaran jasmani yang konstan, adakalanya kita menderita sakit yang menyebabkan lemahnya sistem imuno dan kebugaran tubuh , bagitupun dengan usia dari waktu ke waktu akan terus berjalan, masa muda akan berakhir dan tibalah masa tua (biasanya) tingkat produktivitas semakin berkurang karena usia senja yang di telan masa.
Manusia mana yang menghendaki sakit ? pasti semua orang menginginkan hidupnya selalu sehat, bugar dan tetap kuat disepanjang hidupnya. Ingat di dunia ini tidak ada yang kekal dan abadi semuanya akan mengalami kerapuhan sekalipun itu besi dan baja yang kuat dan kokoh, kecuali Tuhan pencipta bumi dan langit yang Maha Kekal dan Abadi selamanya.
Ketika kita mengalami krisis hidup (suatu keadaan yang dianggap memebahayakan) entah itu karena sakit, tenaga yang semakin melemah karena faktor usia ataupun karena masalah ekonomi, mau tidak mau kita harus menyediakan dana untuk menyambung hidup supaya bisa bertahan, salah satunya dengan siap sedia dana dari masa muda untuk hari tua, seperti halnya BNI Simponi yang menawarkan dan siap mengkordinir untuk mengatur tabungan dana pensiun.
Seyogyanya apa yang terjadi di masa pensiun itu adalah hasil kepiawaian kita untuk mengatasi krisis hidup, alangkah baiknya jika kita sudah siap siaga dana dari (mulai sekarang) saat masih muda untuk menghadapi krisis di hari tua. Misalnya dengan menimbun dana untuk biaya kesehatan, pendidikan anak, dan tunjangan-tunjangan lainnya walaupun tidak semua tolok ukur kebahagiaan bisa dinilai oleh banyak uang, ada hal yang paling penting adalah memiliki keluaga yang harmonis, sahabat sejati adalah sumber kebahagiaan yang tak ternilai.
Jangan pernah bosan untuk belajar dan terus belajar dari metamorfosis hidup yang pernah di alami, belajar memaknai dan mencerna apa arti dibalik krisis hidup.
Mari kita menabung uang untuk cinta, keluarga, dan karib kerabat demi hidup yang bahagia, sejahtera dan bertahta di masa tua.
*Tulisan ini di ajukan untuk mengikuti lomba blog BNI Simponi http://bit.ly/BNI-Simponi
Ketika kita mengalami krisis hidup (suatu keadaan yang dianggap memebahayakan) entah itu karena sakit, tenaga yang semakin melemah karena faktor usia ataupun karena masalah ekonomi, mau tidak mau kita harus menyediakan dana untuk menyambung hidup supaya bisa bertahan, salah satunya dengan siap sedia dana dari masa muda untuk hari tua, seperti halnya BNI Simponi yang menawarkan dan siap mengkordinir untuk mengatur tabungan dana pensiun.
Seyogyanya apa yang terjadi di masa pensiun itu adalah hasil kepiawaian kita untuk mengatasi krisis hidup, alangkah baiknya jika kita sudah siap siaga dana dari (mulai sekarang) saat masih muda untuk menghadapi krisis di hari tua. Misalnya dengan menimbun dana untuk biaya kesehatan, pendidikan anak, dan tunjangan-tunjangan lainnya walaupun tidak semua tolok ukur kebahagiaan bisa dinilai oleh banyak uang, ada hal yang paling penting adalah memiliki keluaga yang harmonis, sahabat sejati adalah sumber kebahagiaan yang tak ternilai.
Jangan pernah bosan untuk belajar dan terus belajar dari metamorfosis hidup yang pernah di alami, belajar memaknai dan mencerna apa arti dibalik krisis hidup.
Mari kita menabung uang untuk cinta, keluarga, dan karib kerabat demi hidup yang bahagia, sejahtera dan bertahta di masa tua.
*Tulisan ini di ajukan untuk mengikuti lomba blog BNI Simponi http://bit.ly/BNI-Simponi


Tidak ada komentar:
Posting Komentar