Selasa, 19 November 2013

Ciparay Bukan Sekadar Majalengka "Coret"

Hadirin se-bangsa dan se-tanah air saya akan menampilkan foto-foto yang beresolusi tinggi mohon untuk bersiap siaga !

Suasana pagi hari di pekarangan depan rumah
Langit biru terlihat begitu cerah, surya mulai memancarkan sinarnya dari ufuk timur, semilir angin gelebug khas Majalengka menghiasi pagi menjadikan susana terasa lebih indah karenanya pepohonan di pekarangan menari berlenggok dengan gemulainya, menghela nafas panjang dan tertegun diam dalam beberapa detik  menikmati udara segar nun sejuk khas kampung halaman tempat dimana saya dilahirkan dan menghabiskan masa kecil yang menuai banyak cinta dan cerita.


Label yang tertera di atas pintu rumah

Dusun Karang Anyar Rt 01 / Rw 01 Desa Ciparay, Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka tepatnya di rumah sederhana inilah saya  dilahirkan dan dibesarkan. Rumah ini adalah Surga bagi keluarga besar saya, tempat berteduh dari teriknya sinar mentari , tempat bernaung ketika gulita malam menghampiri, tempat dimana kami sekeluarga melepas lelah, dan tempat untuk saling berbagi kasih dan sayang.

Keluarga saya terbilang keluarga besar karena ibu dan bapak mempunyai banyak anak semuanya berjumlah 8 (delapan), jumlah yang tidak sedikit untuk ukuran di zaman sekarang yang mayoritas penduduknya sudah sadar akan  program KB, lain halnya  dengan zaman dahulu yang rata-rata masih mempunyai dalih “banyak anak banyak rezeki”.  Dengan penuh kasih ibu dan bapak mendidik dan membesarkan kedelapan anaknya, kehidupan kami sangat sederhana,  apa adanya jauh dari hura-hura apalagi hedonisme. 

Saya adalah puteri bungsu dari delapan bersaudara yang lahir pada 3 Januari 1993. Dalam cara mendidik  Kedua orang tua saya  selalu mengajarkan tentang keprihatinan, disiplin dan Kerja Keras dengan dibumbui nilai-nilai agama dan kesusilaan yang sangat kental dan kuat karena saya yakin setiap orang tua bercita-cita kelak anaknya tumbuh menjadi anak yang soleh dan solehah berguna bagi agama nusa dan bangsa.  

Banyak orang bilang katanya “jadi anak bungsu itu enak” tapi ini tidak berlaku untuk saya. Ibu mempunyai banyak anak sampai jumlahnya 8 (delapan) yang semuanya harus di beri asupan ASI yang optimal karena ASI sangat membantu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak.  Saking banyaknya giliran saya enggak kebagian ASI,  enggak tau kenapa  mungkin karena pesediaan ASI ibu yang sudah menipis bahkan habis karena sudah  tersedot oleh kakak-kakak saya yang lahir lebih dulu.

Terkadang suka sedih dulu waktu masih kecil diledekin dan ditangisin kakak dikata-katain kalau aku ini anak dapat nemu disawah jadi gak diberi ASI minumnya susu formula terus  -___- sering aku nangis gara-gara diledekin kakak.  KAKAK JAHAT !!!  elusan dan sentuhan telapak tangan ibu yang penuh kasih menyangkalnya “kamu anak ibu nak” jep-je-jep. Tapi aku senang punya banyak kakak semuanya memiliki sifat yang sangat pariatif dan saling melengkapi satu sama lain.

Dari Hasil Alam Kami Hidup dan Bersekolah

Foto "Kebon balong" yang di ambil dari kamera HP saya

Kami sekeluarga menyebutnya dengan sebutan “kebon Balong”, ini di ambil dari bahasa sunda “kebon” dalam bahasa inidonesia berarti tempat atau lahan yang bisa ditanami berbagai macam tanaman dan pepohonan dan “balong” yang artinya empang  atau kolam besar tempat untuk memelihara berbagai jenis ikan. Kebon Balong ini lahannya cukup luas yang terletak cukup jauh dari rumah tempat kami tinggal jika ditempuh dengan berjalan kaki memerlukan waktu kurang lebih sekitar 20 menit. Bapak saya bukan lulusan Fakultas pertanian begitupun dengan ibu saya bukan juga lulusan fakutas ilmu kelautan dan perikanan, tapi beliau adalah dua sejoli yang sangat mafhum dan mengerti tentang bagaimana cara mengolah perkebunan dan sawah-sawah yang dimilikinya . Dari hasil alam inilah ibu dan bapak berusaha keras untuk bisa membesarkan dan menyekolahkan kedelapan anaknya dan menjadikan putera-puteri nya menjadi anak yang cerdas, pintar, tentunya  menjadi anak-anak yang “Berbakti dan Berbakat”. Di kebon balong ini tanaman apa saja bisa tumbuh dengan subur seperti pohon melinjo, pohon mangga, pohon durian, pohon kelapa, pohon gayam, pohon salam, pohon pisang, pohon  pandan, pohon kunyit dan masih banyak yang lainnya termasuk pohon bambu yang tumbuh menjulang tinggi menghiasi perkebunan milik keluarga kami. Begitupun dengan empangnya, di empang tersebut terpelihara berbagai macam jenis ikan seperti ikan gurame, ikan lele, ikan nila, ikan tambak, ikan mas dan masih banyak jenis ikan yang lainnya, di empang kami juga tumbuh sepesies-sepesies air tawar seperti udang, belut, remis, dan kepiting. Ikan-ikan yang ada di empang kami berbeda dengan ikan-ikan yang lain, ikan dari empang kami lebih sehat dan segar karena asupan pakan yang diberikan termasuk pada kategori pakan sehat dan bernutrisi.

Ketika musim memanen tiba semua hasil kebun diambil lalu dijual kepasar. Cara mengaturnya itu sangat bagus, dalam hal ini saya merasa salut dan ingin menyebutnya dengan sebutan “Nahuddin Ameen of Management”. Walaupun saya tidak tahu percis bagaimana kronologisnya karena dulu saya masih kecil jadi belum bisa berperan aktif membantu ibu dan bapak paling saya hanya sekadar main-main ayunan yang ada di kebun. Saya mendengar ceritanya dari ibu, bapak dan kakak-kakak saya jadi begini ceritanya dalam pengambilan hasil kebun kedua orang tua saya menggerakan semua anak-anaknya membagi-bagi tugas pokoknya semuanya harus bekerja ada yang memanjat pohon kelapa, ngambil ikan, ngupas kulit kelapa, wah pokoknya banyak sekali. Setelah semuanya sudah siap untuk dipasarkan besok paginya ibu yang membawanya kepasar untuk dijual dan uangnya dipakai untuk membiayai kehidupan keluarga kami yang lebih mempriotaskan untuk makan dan biaya pendidikan sekolah. Begitulah siklus hidup keluarga kami yang penuh dengan kerja keras. Dari hasil alamlah kami dibesarkan sampai sekarang anak-anaknya sudah besar kebon balong masih tetap lestari, sekarang hasilnya tidak untuk dijual tetapi untuk dinikmati bersama oleh keluarga besar kami.

Budaya Anti Bolos Sekolah


Walaupun terbilang repot tetapi ibu dan bapak tidak pernah menghendaki anak-anaknya putus sekolah ditengah jalan, pokoknya semuanya harus sekolah. Zaman dahulu ketika kakak-kakak saya SD, SLTP, dan SLTA, pendidikan masih mahal (belum gratis) seperti sekarang, pemerintah belum memberikan Bantuan Operasinal yang khusus untuk pendidikan.
Coba bayangkan segimana repotnya ibu dan bapak berjuang keras menyelohkan anak-anaknya. Berapa jumlah uang SPP yang harus dibayar pada setiap bulannya pastinya sangat besar sekali, tetapi ibu dan bapak selalu berjuang sehidup - semati untuk bisa menyekolahkan putera-puterinya dan berhasil membudayakan anti bolos sekolah apapun alasanya mengenyam pendidikan itu sudah menjadi keharusan karena beliau berfikir hanya dengan berpendidikan berharap bisa mengubah nasib dan menjadi bekal hidup dikemudian hari.

Romantika Masa Kecil

Sewaktu saya kecil suasana rumah sudah tidak lagi berdesak-desakan, putera-puteri ibu dan bapak satu persatu pergi meninggalkan rumah ada yang pergi merantau keluar kota, ada yang pergi ikut suami, ada yang pergi kuliah, di rumah hanya tinggal ibu, bapak, aku, dan A' ii  (kakak ku yang ke-7).

Foto saya waktu kecil

Sewaktu saya kecil saya senang main tanah, main BP-BP an, Main boneka-bonekaan, main spintrong, main loncat tinggi, main engklek, main congklak, main sepada-sepedaan, mandi di kali bersama teman sepermainan saya (walaupun kalau pulang suka di marahin ibu) tapi saya tetep lagi dan lagi pokoknya yang penting saya "Happy" hehe 
Alhamdulillah saya tumbuh sebagaimana anak perempuan pada umumnya. Waktu kecil saya mempunyai banyak teman, dulu waktu saya duduk di Taman Pendidikan Al-Quran saya sering ikut lomba, banyak perlombaan yang pernah saya ikuti, itu berkat dorongan dari ibu dan ibu guru saya di sekolah. Jenis lomba yang pernah saya ikuti sangatlah berpariasi mulai dari lomba busana muslim, doa sehari-hari, hafalan juz ama' tetapi yang paling sering saya ikuti adalah lomba busana muslim bahkan saya berhasil menyabet beberapa tropi lomba busana muslim dari berbagai tingkatan,  saya juga sering dimintai oleh ibu guru untuk tampil diberbagai acara seperti kenaikan kelas, maulid nabi, dan acara-acara lain sekadar untuk mengisi sebagai hiburan. Kalau lagi inget itu terkadang saya suka malu hahahahahhaha.

Ini foto saya waktu duduk di TPA Hidayatul Mubtadiin dan memenangkan juara 1 lomba busana muslim. he he he :)

Masa-Masa Sekolah

Saya memasuki bangku Sekolah Dasar sekitar tahun 1999. Sekolah saya tidak terlalu jauh dari rumah bisa dengan berjalan kaki untuk menempuhnya. Ibu dan Bapak menyekolahkan kedelapan putera-puteri mulai dari jenjang pendidikan dasar, menengah, atas, bahkan ada satu kakak saya yang ke-5 bisa sampai ke jenjang pendidikan tinggi (hebaaaaatt anak ibu dan bapak) semuanya harus sekolah.

Ini SD tempat kami ber-delapan menempuh pendidikan dasar.
(a wang, c 4,c ijah, c emun, a mbi, a mang, a ii, dan saya)
Di tempat inilah saya dan kakak-kakak saya mulai mengenal aksara belajar membaca, menulis, dan berhitung. Saya masih hafal betul ketika sedang belajar membaca kalimat yang sering di pakai oleh ibu guru waktu SD adalah "Ini Budi, Ini Ibu Budi". Ada rasa rindu yang mendalam ketika kembali mengenang masa-masa kecil  tetapi sayang, sedalam-dalamnya rasa rindu itu tidak bisa mengembalikan lagi pada masa yang telah berlalu walaupun itu hanya sekadar satu detik saja, itu lah masa yang semakin hari semakin melatasi terus melatasi hingga sampai pada detik ini menghantarkan kami pada pada jalan yang berbeda, tugas yang berbeda, pekerjaan yang berbeda, tetapi kami tetap lah satu putera-puteri ibu dan bapak yang berbakti dan berbakat. Insya Allah :)

Di Piatukan Ibu Pada 20 Desember 2009

Di penghujung tahun 2009 tepatnya Minggu, 20 Desember 2009 ajal datang menjemput Ibu. Serasa mimpi buruk yang tidak pernah diharapkan. Ibu pergi meninggalkan Bapak, Empat putera dan Empat puteri beserta cucu-cucu kesayangan. Duniaku serasa jungkir balik tak berbentuk, terlebih pada saat itu saya masih berusia 17 tahun kurang dua minggu, usia yang masih belia dibanding dengan kakak-kakak saya yang sudah berumah tangga dan bekerja lain halnya dengan saya masih duduk di kelas XI Madrasah Aliyah yang masih membutuhkan kasih sayang, perhatian, dorongan, dan semangat dari seorang ibu. Terkadang sempat terlintas di benak saya mengapa Allah memberi suratan takdir yang  begitu berat untuk saya. Ibu yang selalu memberikan perhatian, semangat dan dorongan tiba-tiba harus pergi untuk selamanya. Sampai pada detik ini saya kangen bawelnya ibu "Nak Sholat, Nak Belajar, Nak Sekolah, Nak Makan, Nak Cuci Piring, Nak Ngepel  !! " sekarang saya kangen sentuhan telapak tangan ibu dan ingin bertemu ibu.

BerDiKaRi ( Berdiri Diatas Kaki Sendiri )

Di Ulang Tahun ku yang ke-17 (Sweet Seventeen) usia yang sangat di tunggu-tunggu oleh para kaum remaja katanya usia 17 tahun itu spesial saya masih belum mengerti mengapa banyak yang berasumsi demikian, padahal kenyataannya semakin bertambah angka maka jatah usia kita semakin berkurang, mungkin bisa jadi di usia 17 para remaja lagi senang-senang nya main, pacaran, hura-hura dan lain sebagainya.

Tetapi setelah saya berintropeksi diri ternyata benar 17 tahun sangat spesial, usia yang cukup matang untuk mulai belajar berfikir lebih dewasa dan mandiri. Khusus bagi diri saya di usia 17 adalah awal dimana saya menjalani hidup tanpa ibu, saya harus lebih dewasa dalam berfikir dan bertindak, lebih mandiri, pandai mengatur waktu karena tidak akan ada lagi perhatian dari sosok ibu yang sering mengingatkan saya untuk sholat, belajar, sekolah, makan. Ini salah satu rencana dan cara Allah untuk mendewasakan saya. Saya yakin dengan rencana-rencana yang Allah berikan pasti di suatu saat nanti di saat yang tepat ada rencana indah yang Allah berikan untuk saya. 

Sabar dan Ikhlas menerima suratan takdir yang diberikan Allah, tetap tersenyum dan semangat menjalani hari-hari yang semestinya dijalani, kuasaku untuk mengatur waktu ibadah, belajar, makan, sekolah, bermain, istirahat, pokoknya saya harus medapatkan keuntungan yang besar dari waktu yang saya jalani.

Saya punya segudang cita dan cinta, punya impian, punya keinginan, mengharapkan masa depan cerah  dan saya ingin membahagiakan keluarga. Maka dari itu saya harus semangat, tekun belajar, kerja keras, berpendirian kuat dan tentunya harus disetai dengan Iman dan Taqwa yang kuat pula.

Hidup Itu Untuk Apa Ya ?

Hidup tidaklah semulus jalan tol, hidup adalah patamorgana yang penuh dengan keabstrakan dan hidup layak untuk perjuangkan. Saya pernah merenung sebenarnya apa tujuan hidup, untuk apa hidup  dan apa yang harus di cari disaat kita hidup ? setelah ditelisik ternyata berakhir pada yang namanya "Bahagia", lebih tepatnya lagi Bahagia di Dunia dan di Akhirat. Untuk mencapai pada predikat tersebut banyak jalan  untuk bisa meraihnya. Islam mengajarkan "kejarlah urusan duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya dan kejarlah urusan akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok" bila ditafsirkan kurang lebihnya seperti ini yang termasuk pada kategori urusan dunia adalah berusaha, bekerja keras, berjuang untuk mengejar materil (uang) yang menjadi bekal hidup di dunia sedangkan yang termasuk kategori urusan akhirat ini menyakut Habluminallah (hubungan antara manusia dengan Allah), pahala atau ganjaran serta amal sholeh. Ajaran islam sudah mengaturnya dalam Rukun Iman (Iman Kepada Allah, Iman Kepada Rasul, Iman Kepada Kitab Allah, Iman Kepada Malaikat, Iman Kepada Hari Akhir, Iman Kepada Qhada' dan Qhadar) dan Rukun Islam (syahadat, sholat, zakat, puasa, naik haji (bagi yang mampu) ), iman dan islam yang kuat serta amalan sholeh  itulah yang akan menghantarkan pada kebahagian di akhiraat.

Pada intinya diperlukan keseimbangan dan keselarasan dalam hal mengejar urusan dunia dan urusan akhirat sehingga bisa mengantarkan pada kebahagian yang sesungguhnya walaupun proses untuk meraihnya sering kali ditemukan hambatan, rintangan, cobaan dan godaan tetapi dalam menghadapinya harus tetap bersabar, ikhlas tawakal dan istiqomah.

Jangan Lupakan Sejarah


Dari semenjak lahir -> menikmati masa kecil -> Sekolah -> sampai pada saat ini yang sedang belajar memaknai arti hidup. Banyak sekali kasih dan kisah, suka dan duka, yang pernah saya alami dan menjadikan hidup seperti pelangi yang penuh dengan warna, banyak ukiran sejarah yang indah untuk dikenang. Terima Kasih berkat didikan, nasihat, dan dorongan ibu, bapak dan ke-7 kakak saya, peran bimbingan dari ibu dan bapak guru, karib kerabat, teman sejawat yang menambah pelengkap cerita dan cinta sampai pada detik ini.

Ciparay..

Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda
Dan handai tolanku
Tak mudah kulupakan
Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan
Desaku permai....


2 komentar:

  1. Hahahahaa anak nang nimu di sawah.. wkwwkwk

    BalasHapus
  2. woww saya kagum... cerita d atas mengingatkan saya.. delapan bersaudara paling bungsu.. khilangan bpk di usia 15 thun... bljar agama di satu yayasan.. Hidayatul anwar.. sring mngikuti perlombaan... skolh dsar di sdn ciparay 1. d lnjutkan dgn madrasah... dua jempol utk anda...

    BalasHapus