Sabtu, 19 Oktober 2013, bisa dibilang itu adalah hari yang "sial" eh bukan "sial
" tapi kurang beruntung. Pada hari itu perkuliahan selesai sekitar
pukul 11.00 WIB sebelum pulang saya dan teman2 menyempatkan diri untuk
memfotokopi materi dan tugas dari dari dosen, setelah semunya selesai
saya pun meninggalkan kampus. Sebelum naik elf saya jajan dulu di
angkringan depan fakultas kedokteran, saya jajan buah (melon dan pepaya)
karena saya pikir dengan makan buah bisa sedikit membuat badan segar
ditengah panas teriknya matahari Kota Cirebon siang hari.
Tidak
lama kemudian elf yang saya tunggu muncul dari arah timur, tanpa
diberhentikan elf itu berhenti didepan saya dan para penunggu elf yang
lainnya. Karena sudah kebelet pengen pulang banget tanpa berpikir panjang saya pun naik elf .
Mobilnya
masih kosong hanya ada sekitar 5-6 orang penumpang semuanya Mahasiswa
yang berbarengan naik dengan saya. Di elf saya duduk di jok bagian belakang
sebelah kiri (dekat jendela). Sambil menikmati perjalanan saya duduk
tenang seperti bisanya menyimpan tas pada lahunan kemudian diatasnya di tumpuk oleh 2 buku yang lumayan besar dan tebal.
Disekitar daerah kedawung tiba-tiba elf berhenti dan menaikan penumpang "aneh"
laki-laki tua baya, rambutnya sedikit bergolf berpakaian rapih, dan
membawa tas hitam berukuran besar. Dari pertama naik saya sudah amati
karena rada aneh juga sih orang itu duduknya pundah-pindah
terus mulai dari jok bagian depan, tengah, semuanya di jajahi, sampai
akhirnya duduk di jok yang didepan pintu, Eeeehh tidak lama kemudian
tiba-tiba pindah ke belakang dan duduk disebelah saya. Elf yang saya
tumpangi terus melaju dan penumpang semakin bertambah banyak. Di sekitar
daerah Plumbon banyak penumpang yang naik yang mayoritasnya adalah
pelajar SMK, saking banyaknya sampe ada siswa yang rela naik di atas mobil. Deretan jok bagian belakang semuanya penuh bahkan sampe diisi oleh 5 orang penumpang.
Udara
disekitar mobil terasa pengap, gerah dan bau asap rokok . Sebenarnaya
saya merasa tidak nyaman sekali dengan situsi dan kondisi yang bener-bener "bad".
Firasat buruk mulai menghampiri saya setelah saya membayar ongkos elf
orang aneh itu duduknya semakin mendekat anehnya dia menumpangkan tas
besarnya diatas lahunan tas , sempat terbesit dalam hati saya (Ehh emangnya elu siapa ???) tingkahnya semakin aneh semakin gugup tidak karuan dia memperhatikan saya dari atas sampai bawah (ehh ngapain loe liat-liat ??). Hati saya semakin tidak enak sepertinya ini adalah detik-detik menjelang peristiwa "Naas"
menghampiri. Hati ini tidak berhenti-berhentinnya bergeming mengucap
asma-asma Allah meminta perlindungan supaya selamat sampai tempat
tujuan. Karena ngeri juga sekarang-sekarang ini lagi marak tindakan kriminal yang dilakukan oleh okum-oknum jahat di angkutan umum.
Perjalanan
semakin dekat menuju tempat tujuan satu persatu penumpang turun dan
kondisi elf sudah tidak lagi berdesak-desakan. saya ingat betul orang
aneh itu turun di pertigaan palimanan, hati saya merasa lega dengan
turunnya orang aneh itu. Mobil kembali melaju sekitar daerah Palimanan
Barat (depan SMA Nepal) elf yang saya tumpangi berhenti dan menaikan
pelajar laki-laki berkacamata dengan berpakaian pramuka. Sebelum si
pelajar itu duduk disamping saya, saya melihat seleting tas bagian depan
sedikit terbuka tanpa berpikir panjang saya menseletingkan kembali tas (tanpa memeriksa isinya ada yang hilang atau tidak).
Dipertigaan perapatan mobil yang saya tumpangi kembali berhenti, Naahh kali ini saya tiba-tiba teringat hp cuma ingin recheck aja sih. Mencari di tas tidak ada ternyata hp saya ada di saku blezer yang saya kenakan di hari itu. (Alhamdulillah masih selamat)
karena biasanya saya menyimpan hp di tas. Ku buka kembali tas, rasanya
ada sesuatu yang hilang dengan isi tasku ini. Ternyata itu DOMPET, DOM-PET Mana loh ko tidak ada.
Saya
mulai panik, lemas, keringat dingin bercucuran, sedikit gemeteran juga,
di cari di setiap sekat-sekat tas juga tidak ada dan tidak mungkin ada
karena saya ingat betul tempat terakhir saya menyiman dompet. Sampai
tiba dirumah saya kembali mencari barangkali keselap-selip dan ternyata tidak ada. Dugaan saya langsung "INI KECOPETAN" :((
Setelah tahu dan yakin kalau saya kecopetan pulang kuliah saya langsung menacari bapak (mau laporan),
karena bapaklah yang harus menjadi orang paling pertama tahu semua
tentang kelangsungan hidup dan hajat hidup saya, Tenyata tidak ada
dirumah lagi dirumah kakak, saya langsung bergegas mendatangi rumah
kakak dan langsung bercerita apa adanya tentang kejadian tersebut.
Bersyukur
sekali dirumah kakak lagi ada teteh, kakak ipar, dan keponakan jadi
bisa membantu saya mempermudah pelaporan pada pihak yang berwenang.
ini menjadi pelajaran bagi saya dan perhatian bagi seluruh pengguna angkutan umum, pastikan dompet anda berada pada tempat yang aman yang tidak terjangkau oleh pencopet !!
ini menjadi pelajaran bagi saya dan perhatian bagi seluruh pengguna angkutan umum, pastikan dompet anda berada pada tempat yang aman yang tidak terjangkau oleh pencopet !!
Teriknya Mentari tengah hari yang begitu
menyengat, perut keroncongan, tenggorokan yang semakin mengering, itulah
pelengkap derita di Sabtu siang 19 Oktober 2013. Namun itu tidak memutuskan
semangat saya untuk segera menyelesaikan berbagai urusan pasca peristiwa Naas
itu. Saya berusaha menjalankannya dengan baik mengikuti saran yang diberikan
oleh Kakak antara lain :
1. Melakukan pemblokiran ATM lewat telepon;
2. Melaporkan perkara pada pihak berwenang ke polsek
setempat dengan memintai surat keterangan kehilangan;
3. Mendatangi Kantor Kecamatan setempat untuk
meminta KTP sementara;
4. Mendatangi Bank yang bersangkutan untuk
pergantian ATM baru.
Ke-Empat point tersebut jika hanya di baca sih terlihat
citel banget, tapi pada kenyataan dan implementasinya Masya
Allah Luar Biasa Sekali.
Begini ceritanya, saya sengaja menulis entri ini
karena saya ingin berbagi lewat tulisan dengan menulis hati saya menjadi lebih tenang,
dengan menulis hati menjadi lebih terolah dan dengan menulis waktu senggang
menjadi lebih berinvestasi.
Ehemmm...
Bismillah, saya mulai menghubungi nomor layanan
Bank yang bersangkutan dan berbicara dengan officer bank tersebut pecakapannya cukup panjang tapi initinya saya meminta pemblokoiran
ATM dan menceritakan kronologi yang terjadi sebagaima sudah diceritakan pada
entri pertama.
Alhamdulillah, point satu
bisa
saya laksanakan dan terchkelist dengan sangat baik ATM masih dalam
kondisi aman. (walaupun pulsa nya dapat dikasih Ceu Empat (Nama Teteh
saya) dan hp nya
pinjam (hp keponakan) yang penting re-besss !!.
Beranjak pada point yang kedua,
saya mendatangi polsek setempat diantar keponakan (karena saya tidak
bisa nyetir motor, kalau naiknya sih ya bisa heu-heu) di sini
luka-liku di mulai. Eng-iing eeenggg !!!
Di awali dengan ucapan salam, anggukan kepala, dan berjabat tangan saya menyapa petugas polsek yang sedang duduk dikursi kemudian saya menyampaikan maksud dan tujuan saya yaitu melaporkan perkara yang terjadi apa adanya dan meminta surat keterangan kehilangan. Petugas itu mendengarkan cerita saya dengan seksama lalu menyalakan komputer untuk mengakses surat keterangan yang saya minta. Kata Petugas itu katanya harus ada Kartu keluarga (ooooo saya lupa tidak membawa Kartu Keluarga) Jadi saya pulang lagi untuk membawa Kartu Keluarga. Kartu Keluarga telah berhasil saya bawa dan diserahkan kepada petugas lalu beliau mengetik nama saya (lama sekali) katanya nama aku kepanjangan dan susah. Setelah berhasil menulis nama dan identitas saya, saya menyebutkan barang dan surat-surat apa saja yang hilang untuk di cantumkan di surat keterangan tersebut. Alhamdulillah beres petugas itu langsung mengeprintnya dan meminta saya untuk menanda tangan. sebelum tanda tangan saya membaca ulang terlebih dahulu uuiihh ternyata banyak yang salah. Jadi dengan penuh rasa hormat saya meminta kepada petugas itu untuk memperbaikinya ini demi kelancaran saya untuk menyelesaikan urusan selanjutnya. petugas itu tidak keberatan untuk melayani permintaan saya setelah semua data dinyatakan fix surat pun berhasil di print dan di tanda tangani pelapor atas nama IIM ROHIMATUN NAHDIYYAH .Tapi lucunya di negeri ini selalu saja ada yang namanya "Uang Admnistrasi" padahal kan sudah di gaji negara. kkkkkk yeaahh tapi di pikir-pikir dari pada saya tidak mendapatkan surat itu, nanti bisa menyebabkan kemandegan dalam penyelesaian urusan selanjutnya YA SUUUDDAAH !! Alhamdulillah surat keterangan kehilangan have adoonee :))
Selanjutnya yaitu urusan point ketiga. Dalam posesnya ini cukup panjang, karena kejadian perkara itu hari sabtu, biasanya kalau Hari Sabtu Instansi Pemerintah itu libur jadi harus menunggu hari kerja. --------_---------
Senin, 21 Oktober 2013 sekitar Pukul 09.00 WIB saya mendatangi kantor kecamatan setempat untuk meminta KTP sementara pengganti e-KTP dengan berbekal fotokopi Kartu Keluarga dan Surat Keterangan Kehilangan dari Polsek (saya pergi sendiri loohh, gak ada yang nganter). Mengucap salam saat memasuki pintu (tapi tidak ada yang menjawab) jadi saya langsung saja menghampiri salah satu petugas untuk menjelaskan maksud dan kedatangan saya ternyata kedatangan saya di tolak petugas kecamatan katanya sih harus ke balai desa terlebih dahulu datang ke sekdes atau ke Pak Raksabumi, Nanti biar Aparat Desa yang mengurusinya. nggekkk.... !!
Menghela Nafas Panjang Sambil bilang SABBAAR !! (Dalam Hati)
Saya langsung mendatangi Balai Desa setempat untuk menyelesaikan hal yang dimaksud, alhamdulillah enggak di tolak lagi hanya dimintai 1 buah foto berukuran 3 x 4, tapi katanya ini perlu proses karena ini pembutannya di Kantor Kecamatan , Dalam hati (iya tau, semuanya pasti perlu yang namanya PROSES) berapa lama prosesnya soalnya ini sangat diperlukan tanya saya ??, "Ya nanti aja, Kalau udah selesai di antarkan ke rumah" itu jawaban dari petugas Desa. Setelah mendengar jawaban itu saya pamitan dan kembali kerumah.
28 JAM KEMUDIAN ....
Selasa Sore, Sekitar Pukul 14.00 WIB rumah saya didatangi Aparat Desa untuk menyerahakan KTP sementara, setelah diserahkan lagi-lagi uang admnistrasinya Rp.20.000 (Padahal saya hafal betul di Kantor Kecamatan tertera tulisan pembuatan KTP tidak dipungut biaya alias GRATIS). Ya Sudah lah karena lagi butuh !!!
Aparat Desa sudah enyah dari rumah, saya membaca
kata demi kata tulisan yang tertera di KTP sementara tersebut, rasanya ada
kejanggalan dan ada kata-kata yang kurang. Di KTP tersebut tidak ada kalimat
yang menerangkan bahwa e-KTP milik saya hilang dan KTP ini bisa dijadikan KTP
Sementara dan dapat dipergunakan sampai e-KTP terbit. Hmm saya tidak langsung menindak lanjuti hal ini taktunya ini hanyalah
intuisi dan perasaan saya saja. Saya Simpan KTP Sementara itu baik-baik takut
hilang lagi. Hehehe
Ke Esokan Harinya Rabu, 23 Oktober 2013
Saya Sudah terbiasa bangun pagi pukul 04.30 WIB di kala fajar yang mulai mengising ditemani gema adzan subuh yang mulai menyeru, membangunkan umat untuk segera bergegas bangun dan bersimpuh pada Illahi Sang Pencipta Bumi dan Langit beserta seluruh isinya. Selesai sholat Subuh di semester 5 ku ini saya mencoba dan membiasakan diri mengawali aktivitas diawali dengan membaca ayat-ayat Allah terlebih dahulu walau hanya 1-2 Ayat karena saya menyadari perjalanan hidup saya ini semakin terjal dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah saya berharap pertolongan dan arahan serta petunjuk pada jalan yang lebih haq. Inilah nikmatnya beragama insya Allah dengan bekal agama yang kuat hidup menjadi lebih barokah dan terarah. Amiin Yaa Robbalalamiin
Aktivitas selanjutnya yaitu :
1. Membereskan
tempat tidur (done);
2. Menyapu
lantai (done);
3. Mengepel
teras luar yang kotor karena malamnya turun hujan (done);
4. Mencuci
piring (done);
5. Sepesial
untuk Hari Rabu, 23 Oktober 2013 saya mencuci pakaian pagi-pagi sekali biasanya
saya tidak mau nyuci sebelum jam 9 haha (lumayan dingin 45 menit berada di
kamar mandi) tapi Alhamdulillah (done) ;
6. Menjemur
pakaian di pekarangan Ma Iboh (Nama Tetangga Saya) (done);
7. Mandi,
dandan lalu sarapan pagi (done);
8. Memeriksa
kembali surat-surat karena ketakutan ada yang ketinggalan (done);
9. Pergi
menuju Djatiwangi du du du
Pukul 07.30 WIB saya sudah pergi meninggalkan rumah bergegas pergi untu menyelsaikan urusan ke empat terbilang sangat pagi sekali ini sudah menjadi mindset saya pokoknya saya harus mendapat nomor antrian pertama (001) supaya aksesnya lebih cepat dan menghindar juga dari terik panas matahari Jatiwangi disiang hari. Kali ini saya lebih memilih untuk pergi sendiri karena pergi sendiri jauh lebih bebas dan sat-sit-set ketimabang membawa buntut (teman).
Saya pergi dengan naik elf (sebenarnya masih merasa parno dengan kejadian kemarin) tapi BISMILLAH dengan didasari kehati-hatian semoga selamat sampai tempat tujuan. Sekarang-sekarang saya lebih memilih untuk duduk di depan (kalau kosong) karena saya pikir duduk di depan kenyamanan dan keamanannya lebih terjaga. Ditengah perjalanan saya baru sadar kalau saya pergi tidak memakai kacamata ketinggalan jeh pantas alam dunia ini terasa buram dan silau ketika dipandang ini karena keterbatasan jarak pandang yang (harus di bantu dengan berkacamata) tapi Allhamdulillah masih bisa melihat walaupun sedikit mengkerung.
Tidak terasa perjalanan sampai di tempat tujuan
tepatnya lampu merah Jatiwangi pas di depan Bank “Y”.
Saya masuk kedalam dengan dibukakan pintunya oleh Pak Satpam, sambil mengangukan kepala dan ucapan “Selamat Pagi ada yang bisa saya bantu ? ” Saya pun tersenyum simpul dan menganggukan kepala saya tanda membalas sapaan Pak Satpam, Kepada Pak Satpam saya menjelaskan maksud dan tujuan saya lalu dengan segera Pak Satpam memberikan Nomor Antrian (Alhamdulillah ternyata mindset saya tercapai) antrian Nomor 001. Saya duduk ditempat yg telah disediakan sambil memperhatikan kartu antrian itu pada kartu itu tertera logo Bank lalu bertuliskan “SELAMAT DATANG NOMOR ANTRIAN ANDA (001) TERIMA KASIH ANDA TELAH MENUNGGU”. Kata-katanya sangat sopan sekali andaikan ini diterapkan di Instansi Pemerintah.
Saya masuk kedalam dengan dibukakan pintunya oleh Pak Satpam, sambil mengangukan kepala dan ucapan “Selamat Pagi ada yang bisa saya bantu ? ” Saya pun tersenyum simpul dan menganggukan kepala saya tanda membalas sapaan Pak Satpam, Kepada Pak Satpam saya menjelaskan maksud dan tujuan saya lalu dengan segera Pak Satpam memberikan Nomor Antrian (Alhamdulillah ternyata mindset saya tercapai) antrian Nomor 001. Saya duduk ditempat yg telah disediakan sambil memperhatikan kartu antrian itu pada kartu itu tertera logo Bank lalu bertuliskan “SELAMAT DATANG NOMOR ANTRIAN ANDA (001) TERIMA KASIH ANDA TELAH MENUNGGU”. Kata-katanya sangat sopan sekali andaikan ini diterapkan di Instansi Pemerintah.
Tidak lama kemudian terdengar bunyi CSO Antrian 001, saya langsung bangkit dari tempat duduk lalu berjalan menuju tempat pelayanan nasabah. Dibantu oleh Bapak Temi Setiawan yang merupakan salah satu pegawai di Bank Y. Petugasnya sopan, tutur katanya lemah lembut, berpakaian rapih, murah senyum, ganteng lagi hahahahaha kepada petegas tersebut saya bercerita dan menjelaskan maksud saya dan menjelaskan juga bahwa sebelumya saya sudah menghubungi layananan Bank Y via telepon jadi proses agak sedikit mudah.
Petugas tersebut menanyakan KTP sementara yang baru saja selesai dibuat, saya menyodorkan KTP tersebut bersama Surat Keterangan Kehilangan dari polsek. Petugas itu membaca dengan seksama kata demi kata yang tertera pada KTP dan berkomentar serupa dengan saya saat pertama membaca KTP tersebut ada kejanggalan dan ada kata-kata yang kurang. Di KTP tersebut tidak ada kalimat yang merangkan bahwa e-KTP milik saya hilang dan KTP ini bisa dijadikan KTP Sementara dan dapat dipergunakan sampai e-KTP terbit. (Tuh kan benar sesuai dengan dugaan pertama saya). Petugas tersebut menyarankan untuk memperbaiki KTP Sementara saya terlebih dahulu, ini demi ketertiban administrasi setelah diperbaiki baru proses pembuatan ATM bisa dilaksanakan. Karena sarannya logis dan masuk akal dengan senang hati saya mau menjalankannya tapi dengan catatan saya meminta surat pengantar dari pihak Bank sebagai bukti penguat untuk diajukan ke Kecamatan X supaya nantinya tidak terjadi perdebatan dan lebih meyakinkan petugas Kecamatan yang saya tuju. Permintaan Saya pun disetujui oleh pihak Bank dan menyodorkan selembar kertas yang isinya terkait dengan hal yang dimaksud. Saya pergi meninggalkan Bank Y dan kembali lagi ke kantor kecamatan X.
Eng-Iing-Enggg ... !!
Rasanya dalam keadaan yang seperti ini saya sangat berharap dan memohon pertolongan dari Allah semoga segala sesuatunya diberi kelancaran. Disepanjang perjalanan saya berfikir dan sedikit geram dengan kebirokratisan di negeri ini dan satu hal lagi saya merasa prihatin dengan sistem pengadmnistrasian yang masih belum tertib, membuat KTP sementara masih salah, coba bayangkan jika hal yang serupa ini dialami oleh banyak orang pastinya akan menyita banyak waktu. Ini sebagai catatan dan PR bagi saya karena ini berkaitan dengan studi yang sedang saya jalani, saya sudah menempuhnya selama kurang lebih empat setengah semester dan saya sudah enyam teorinya yang berkaitan dengan hal tersebut , tetapi untuk menyesuaikan antara teks dan konteks itu tidak semudah membalikan telapak tangan harus ada kesadaran dan ketegasan dari berbagai kalangan.
Pelayanan Prima Masih Sekadar "Wacana"
Setiba di Kantor Kecamatan X sebelum masuk saya mengucapakan salam terlebih dahulu (tapi enggak ada yang jawab) padahal saya tahu percis didalamnya ada para abdi negara yang sedang ngobrol dan membaca koran, tapi ya sudahlah dengan penuh pengertian saya masuk saja ke kantor tersebut. Saya langsung menemui salah satu petugas yang sedang duduk dan menjelaskan maksud dan tujuan kedantangan saya. Diawali dengan kata "Maaf" dan penuh dengan pengertian saya menjelaskan kepada salah seorang petugas bahwa ada kesalahan dalam format penulisan KTP Sementara saya menjelaskan dengan bahasa bicara yang sopan seenggaknya saya sudah mengeyam Mata Kuliah Komunikasi Dalam Admnistrasi yang di dalamnya dipelajari tentang bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan sopan dengan harapan terjalinnya koordinasi, intergrasi dan sinkronisasi untuk mencapai suatu tujuan. Saya enggak mau nilai yang tertera di Kartu Hasil Studi Mahasiswa itu hanya sekadar topeng belaka, disini saya mencoba belajar menyesuaikan antara teori dengan praktek karena ilmu akan lebih bermanfaat dan semakin berbuah jika diamalkan dalam kehidupan nyata. Akhirnya petugas tersebut menyimak dengan baik apa yang saya maksud dan beliau berkata "Terima Kasih neng atas Masukannya". "Tetapi ini lama prosesnya dan tidak bisa ditunggu, nanti datang lagi kesini sekitar jam 2 siang saja" saya berusaha menyanggah pernyataannya, saya tidak mau berlarut-larut dalam kedilemaan kerena tidak memiliki KTP.
Akhirnya saya diperbolehkan untuk menunggu diruang tunggu yang sudah di sediakan sekitar 50menitan saya menunggu, waktu yang cukup lama sekali, normalnya mengedit format yang hanya 3-4 baris saja dengan waktu 5-10 menitan harusnya sudah beres tetapi tidak apa-apa dengan penuh pengertian saya pemahami bahwa pelayanan prima (pelayanan yang melebihi harapan masayarakat) di negeri ini hanya sekadar "wacana" saja dalam implementasinya belum bisa sepenuhnya diwujudkan.
Dalam waktu menungguku saya mengamati banyak hal, apa yang saya lihat, apa yang saya dengar dan apa yang saya rasakan. Sejenak saya memejamkan mata sambil menghela nafas panjang dan berandai-andai. Indonesia ini adalah negara yang heterogen negara yang kaya akan sumber daya alam, negara yang memiliki keanekaragaman flora dan fauna, negara yang kaya akan budaya, ras, suku dan adat inilah yang membuat saya bangga menjadi anak Indonesia. Tetapi di sisi lain saya merasa prihatin dengan negeri ini, Indonesia yang sangat akrab disapa dengan negara terkorup di dunia, negara agraris tetapi ironis, negara yang penuh dengan kebirokratisan, negara yang hukumnya masih bisa di beli "Tumpul ke Atas Tajam Ke bawah", negara yang kekurangan modal sehingga banyak saham-saham asing yang bertebaran bahkan membengkak diperusahaan-perusahaan ternama di Indonesia. That's is reality in Our Country !!. Entahlah kenapa ini terjadi pada negeriku ini. Tetapi saya bangga dan Cinta INDONESIA, suatu saat nanti di saat yang tepat Indonesia akan berubah dan berbenah.
Menjadi Orang Baik Jauh Lebih Penting di Banding Jadi Orang Penting yang Kurang Baik
Kenapa saya berani berstatment seperti ini, karena saya melihat potret kenyataan yang terjadi di bumi pertiwi yang saya pijaki ini banyak orang-orang penting yang menduduki jabatan penting yang notabenenya “kurang baik” jangan jauh-jauh melihat ke potret Ibu Kota Negara yang sering ditayangkan di layar kaca, Pak Jokowi yang sering merasa geram, jengkel bahkan sampai marah-marah karena ulah para abdi negara yang suka bolos, tidak disiplin, dan datang ke kantor bukan untuk melayani, ternyata eh tenyata di tempat tinggal saya pun tidak jauh beda dengan apa yang ditanyangkan di TV sehingga mendatangkan kesan yang "kurang baik" di sini maksudnya kurang menjungjung tinggi etika dan moral serta kode etik sebagai orang penting (abdi negara) sehingga mendekatkan mereka pada tindakan-tindakan yang tidak terpuji seperti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Saya tidak berani menyatakan “tidak baik” saya rasa itu sangat “saklek” untuk dinyatakan yang namanya “kurang” itu masih bisa diperbaiki, masih bisa dibenahi dengan catatan ada niat yang tulus dari hati nurani yang paling dalam, adanya kemauan, dorongan serta kesadaran untuk berusaha menjunjung tinggi etika dan moral serta mentaati kode-kode etik kepegawaian.
Maka dari itu saya menghimbau kepada pambaca entri ini, selama kita masih diberi kesempatan untuk hidup dan beramal sholeh tidak ada salahnya kita berbuat baik dan tolong menolong antar sesama selagi kita bisa dan mampu, memanusiakan manusia karena manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna yang diciptakan memiliki akal dan naluri, dan amanah terhadap tugas dan kewajiban yang sedang diemban karena di akhirat nanti akan dimintai pertanggung jawaban.
Weelaahh kenapa jadi banyak ngomongin "negara". baiklah saatnya kembali ke laptoop ..!!!
Setelah sekian lama menunggu ternyata KTP Sementara saya sudah jadi, petugas itu menyodorkannya kepada saya dengan senyum simpul dan ucapan "terima kasih " saya membalasnya sekaligus pamit dan meninggalkan kantor tersebut.
Sekarang saya harus balik lagi ke djatiwangi du du du du .... waktu semakin siang dan udara pun sudah terasa panas, saya kembali dengan semangat yang berapi-api dan menuai harapan urusan hari ini harus selesai karena besoknya saya harus kuliah.
dengan dua kali naik elf ngeeng- ngeeng-ngeeennnnnngggggggggggggggg, cekiiiiiiittt !! akhirnya saya sampai di tempat tujuan emudian langsung masuk ke Bank Y untuk kali ini saya tidak perlu mengambil nomor antrian bisa langsung menghadap ke petugas yang tadi pagi saya melayani, ATM pun bisa diproses dan SELESAI. ALHAMDULILLAH..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar